PENGALAMAN MENDIDIK dan PROSES PENELITIAN
Awal mulanya pada tahun 1972-1976 Siti Nashriyah mengajar pelajaran Akidah dan Bahasa Arab di MI NDM, untuk buku materi Akidah yang digunakan saat itu masih menggunakan bahasa Arab, pola pengajaran dari guru-guru yang lain hanya sebatas menterjemahkan isi buku, sedangkan beliau berinisiatif untuk menerjemahkan bukunya dan mengajarkannya dibarengi dengan referensi dari sumber lain.
Tahun 1974 selain di MI NDM, beliau juga mengajar di SMP Al Islam untuk pelajaran bahasa Arab, buku pegangan yang digunakan adalah buku dari Pondok Gontor, namun dirasa terlalu sulit untuk diajarkan di SMP Al Islam, menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk mengajar bahasa Arab di kelas I SMP pada siswa yang asal SDnya heterogen, baik berasal dari SD umum maupun dari SD Islam. Tantangannya adalah memotivasi yang belum bisa agar tidak putus asa, sedangkan yang sudah merasa bisa agar tidak bosan dan tidak sombong.
Tahun 1978 beliau memodifikasi buku dari Gontor dengan pengalaman beliau mengajar. Sampai tahun 1992 terjadi pengurangan jam pelajaran untuk Bahasa Arab secara berangsur-angsur, yang semula 7 jam, pada tahun 1985 menjadi 6 jam pelajaran, sehingga buku modifikasian tersebut lebih diperingkas namun untuk pengajarannya juga diselingi dengan cerita-cerita dari Mesir, membuat siswa lebih tertarik untuk belajar bahasa Arab.
Pengurangan 1 jam pelajaran ini terjadi setiap dua tahun, yang pada akhirnya di tahun 1992 hanya 3 jam pelajaran, yang sebenarnya menurut kurikulum dari Departemen Agama pada tahun 1985 sudah mematok waktu untuk pelajaran Bahasa Arab adalah 3 jam pelajaran. Agar para guru dan siswa tidak terlalu terkejut, maka dari pihak Al Islam membuat pengurangan tersebut secara berkala, supaya lebih mudah untuk malakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap materi yang akan disampaikan.
Melihat adanya kesenjangan antara harapan ideal dengan realita yang terjadi, pada tahun 1982 penulis mencoba menggunakan beberapa kosa kata dalam Al Quran untuk diajarkan kepada siswa SMP kelas I, namun upaya tersebut belum membuahkan hasil yang signifikan dengan peningkatan kemampuan bahasa Arab para siswa. Di tahun 1991 penulis juga diberi kepercayaan mengajarkan materi terjemahan Al Quran untuk siswa SMP kelas I.
Sempat mengajar Pendidikan Agama Islam di SPG Cokroaminoto pada tahun 1980 sampai dengan 1983. Tahun 1992, beliau mulai mengajar untuk pelajaran Al Quran dengan menggunakan kurikulum dan buku pegangan dari Departemen Agama. 6 tahun kemudian penulis mencoba mengajarkan nama-nama surat Al Quran sesuai dengan nomer urutan surat, kebanyakan siswa masih mengalami kesulitan.
Pemahaman dasar yang senantiasa beliau tekankan bahwa menulis itu tidak sama dengan menyalin, para siswa diajarkan untuk bisa menulis bahasa Arab tanpa melihat buku, karena bagi beliau berdasarkan wejangan awal dari sang Ayahanda bahwa (?) sin dan (?) shod itu berbeda, maka akan lebih mudah dan lebih benar untuk memahami pelajaran dan pengucapan bahasa Arab bila kita mengerti penulisannya.
Setelah mengalami proses yang cukup panjang dan lama, di tahun ajaran 2000/2001 paska mengikuti pelatihan metode Istiqlal, penulis intensif dalam melakukan penelitian, dimulai dengan menggunakan kosa kata dari Al Quran juz 1 untuk pelajaran terjemahan Al Quran, namun penulis mengalami kesulitan dalam memberikan deskripsi terhadap arti kata dalam kehidupan sehari-hari, karena banyak ayat di juz 1 yang menyangkut permasalahan hukum, sehingga siswa pun kurang dapat menangkap materi pelajaran dengan baik. Kondisi ini berlangsung selama dua tahun ajaran dengan pemberian materi terjemahan Al Quran selama 1 jam pelajaran tiap minggu, namun masih terpisah dengan mata pelajaran bahasa Arab.
Menyadari adanya kendala yang dihadapi, di tahun ajaran 2002/2003 penulis mengganti materi terjemahan Al Quran dengan menggunakan surat Al Fatihah, An Nas, Al Falaq, Al Ikhlas, dan Luqman, yang dalam asumsi awal penulis lebih mudah dipahami, disertai dengan penerbitan buku pelajarannya. Alhamdulillah, siswa memberikan respon yang positif dalam menerima pelajaran, sehingga menimbulkan efek peningkatan pemahaman siswa. Di tahun ajaran ini pula, pelajaran bahasa Arab sudah mulai dihubungkan dengan pelajaran Al Quran, walaupun belum secara keseluruhan.
Penelitian dan pengembangan pun secara kontinyu dilakukan dengan diterbitkannya buku berjudul “Meniti Keindahan Bahasa Ilahi” metode MUNISA pada tahun ajaran 2003/2004, yang berisikan surat Al Fatihah, An Nas, Al Falaq, Al Ikhlas, Al Insyirah, dengan tambahan bacaan-bacaan sholat dan beberapa materi tata bahasa dasar. Hal ini dilandasi pemahaman bahwa, sholat adalah rukun Islam yang wajib dijalankan dan dipahami maknanya, maka dirasa perlu diajarkan arti dari bacaan-bacaan sholat.
Di pertengahan tahun 2004, penulis berkeinginan untuk menuliskan awal dan akhir ayat dari surat Al Baqoroh juz 1, terlihat keindahan dan sangat menakjubkan keluasan kosa katanya, penulispun berasumsi bahwa dengan menggunakan awal dan akhir ayat akan dapat mempermudah penyampaian materi pembelajaran dasar bahasa Arab.
Kemudian timbul pemikiran untuk dikembangkan menjadi awal dan akhir surat, bagaimana caranya agar dapat ditulis dalam satu lembar yang mudah dibaca dan dipelajari. Menyadari keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh penulis, maka dengan kerendahan hati memohon hidayah dari Allah penulis mencoba mencari bentuk yang sesuai dan memikirkan dari mana harus dimulai penyusunan awal akhir surat tersebut, setelah mencoba dengan berbagai kemungkinan bentuk, bujur sangkar, empat persegi panjang, segi tiga, jajaran genjang, trapesium, lingkaran, oval, dan Alhamdulillah ketika mencoba bentuk segi enam terlihat cocok dan indah dalam penampilannya. Untuk penyusunannya awalnya penulis mulai dari kiri ke kanan, atas ke bawah, bentuk seperti ular, namun masih terasa kurang pas, akhirnya penulis memutuskan untuk memulai dari tengah dan disusun melingkar seperti obat nyamuk, ternyata menunjukkan tampilan yang membuat penulis memuji kemahasucian Allah. Bentuknya terlihat simetris, dan beberapa surat yang berdampingan menunjukkan keterkaitan, yang tidak akan nampak bila penyusunannya tidak melingkar dari tengah ke tepi.
Allah telah memberikan keistimewaan dan keutamaan yang begitu berlimpah kepada Al Quran agar dapat mudah dipelajari dan dipahami, melalui keteraturan, keindahan bahasa, maupun pesan-pesan yang terkandung di dalamnya, menjadikan daya tarik tersendiri bagi Al Quran. Namun lebih dari itu, sebenarnya Al Quran adalah sebuah kitab yang juga merupakan landasan ideologi, batasan norma, hingga petunjuk teknis bagi manusia untuk dapat menjalani hidup yang penuh makna, sehingga sudah seharusnya bagi umat yang mengaku beriman untuk mengamalkan Al Quran.
Menjadi sebuah harapan bagi penulis untuk dapat menarik benang merah antara ayat qouliyah dari Al Quran dan ayat kauniyah yang merupakan realita kehidupan dan fenomena-fenomena alam, ada pemahaman dalam diri bahwa masih banyak ayat-ayat di Al-Quran dan fenomena alam yang masih belum terungkap, terlebih lagi ketika melihat kondisi realita sosial umat Islam yang cenderung belum memahami fungsi dari Al Quran secara benar. Berangkat dari harapan itulah penulis mengajak para pembaca untuk membuka hati dan pikiran untuk mendapatkan hidayah dari Allah SWT, sehingga termotivasi dalam mencintai dan mempelajari Al Quran dengan menggunakan segenap potensi yang diberikan oleh Allah kepada kita.
Kembali ke Profil Penggagas….. atau ke Pengalaman Akademis…..

