PENGALAMAN AKADEMIS
Orang tua seringkali menjadi sumber inspirasi bagi seorang anak, demikian pula yang terjadi pada sosok seorang Siti Nashriyah selaku penggagas metode munisa untuk belajar bahasa Al-Quran, di tahun 1960 ayahanda beliau mengingatkan bahwa (?) sin dan (?) shod itu berbeda, dikarenakan salah menuliskan namanya sendiri yang seharusnya menggunakan (?) shod, tetapi ditulis dengan huruf (?) sin, hal ini merupakan stimulus khusus untuk lebih mendalami bahasa Arab, padahal telah dipelajari sejak duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah.
Kondisi sistem pengajaran yang ada pada saat itu kurang mampu membawa siswa ke dalam nuansa berpikir, karena hanya mementingkan segi kemampuan siswa dalam membaca, menghafal, dan tata bahasa (nahwu – shorof) terlebih lagi buku yang digunakan masih berbahasa Arab dari Mesir. Berdasarkan perbandingan pengalaman pada tahun 1957 di TK Al Irsyad dan tahun 1958 di SD Al Irysad sampai awal kelas 2, pindah ke MI NDM (Nahdhotul Muslimat) di tahun 1958 juga kembali ke kelas 1, menjadi ketidaknyamanan tersendiri ketika mengikuti pelajaran di MI NDM, yang memberikan kesan membosankan, karena terjadi pengulangan pelajaran yang dirasa tidak ada perkembangan. Terlebih lagi ketika melihat perkembangan dari sang kakak yang sekolah di SD Al Irsyad begitu mempesona, bukan hanya di pelajaran umum, tapi juga pelajaran bahasa Arab.
Beliau lulus MI di tahun 1963, dilanjutkan ke MP (Mualimat Pertama) NDM. Pelajaran bahasa Arab di sini tidak jauh berbeda dengan pelajaran bahasa Arab di MI NDM, begitu pula dengan metode pengajaran yang diberikan, dilalui dalam waktu 4 tahun. Kemudian beliau melanjutkan ke MA (Mualimat Atas) NDM, ternyata masih tetap sama dari segi metode pengajaran. Pada saat di bangku perkuliahan, dalam rangka memenuhi persyaratan kelulusan menjadi sarjana muda, penulis menyusun makalah tentang “Metode Belajar Bahasa Arab” pada tahun 1972.
Segala puji bagi Allah yang memberikan ketidaknyamanan kondisi ini, karena dengan ketidaknyamanan inilah yang memacu beliau untuk senantiasa mencari dan memikirkan sisi ideal, bukan untuk menyalahkan kondisi, tapi lebih untuk melakukan perbaikan. Walaupun mungkin di awal hanya berupa ketidaknyamanan di hati, namun itu dapat terus dikembangkan sesuai dengan wejangan dari kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang kalau boleh diterjemahkan, ”kalau kamu melihat kemungkaran (kondisi yang tidak ideal) maka perbaikilah dengan tanganmu, bila tidak mampu dengan tanganmu, maka perbaiki dengan lidahmu, bila tidak mampu dengan lidahmu, maka perbaiki dengan hatimu, dan itulah selemah-lemah iman”. Bukan berarti menyalahkan guru atau pihak sekolah, atau bahkan menganggap mereka sebagai kemungkaran, namun semangat yang dibangun disini, adalah semangat untuk senantiasa melakukan evaluasi dan perbaikan. Karena di dunia ini tidak ada yang sempurna.
Satu hal yang harus dipahami adalah teori dalam psikologi pendidikan, bahwa keunikan sifat manusia pada masing-masing individunya menjadikan perlu adanya perbedaan treatment atau perlakuan terhadap masing-masing peserta didik. Ketika murid merupakan sosok yang cenderung dinamis, maka akan menjadi bosan kalau pelajarannya hanya sebatas menulis dan menghafal.
Kembali ke Profil Penggagas…..
Menuju ke Pengalaman Mendidik dan Proses Penelitian……
