“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.(Q.S. Ali Imron, 110)
Telah nyata petunjuk dari Allah bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik, namun kenapa justru realita yang terjadi saat ini menunjukkan lain, betapa banyak negara yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam justru berada pada garis kemiskinan, yang kecenderungannya dalam kerangka kapitalisme global Negara-negara tersebut dalam posisi tertindas atau terlemahkan oleh sistem.
Ketika kita mengimani kebenaran Al-Quran, maka yang sepatutnya dipertanyakan adalah ke-Islam-an dari umat Islam itu sendiri, menjadi sebuah keresahan ketika umat Islam itu ternyata sudah mulai jauh dari pedoman hidupnya, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah yang seharusnya menjadi pegangan dalam mengarungi ganasnya samudera kehidupan. Al-Quran yang notabene adalah petunjuk langsung dari yang Maha Pencipta, Rabb seluruh alam, untuk manusia agar melewati jalan yang lurus, jalan orang yang diberi nikmat, bukan jalan orang-orang yang tersesat dan dimurkai oleh Allah SWT.
Kedatangan Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW adalah untuk memerangi ke-jahiliah-an atau yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai ke-bodoh-an, lagi-lagi, tapi kenapa banyak umat Islam yang lemah dalam penguasaan ilmu dan teknologi. Jelas berbeda dengan posisi umat Islam di jaman kejayaan Islam, kuatnya kultur pengembangan keilmuan dari berbagai disiplin, yang sebenarnya telah banyak ditunjukkan di Al-Quran. Inklusifitas dalam Islam pun sangat luas, pengadopsian ilmu-ilmu dari Yunani, Romawi, Persia, bahkan Cina tidak jarang dikembangkan dengan corak yang lebih ‘Islami’. Walaupun toh di akhir kejayaan peradaban Islam sampai sekarang terdapat perseteruan yang cukup hebat antara Ilmu dan Agama, bahkan merembet pada Agama Kristen dan Yahudi.
Sebenarnya semua kelemahan yang diderita oleh umat Islam itu bersumber pada kelemahan akhlak, mental, dan tabiat, yang tidak sesuai dengan ajaran Al-Quran dan As-Sunnah, sekali lagi memang kebanyakan dari umat Islam tidak memahami petunjuk dari Allah dalam Al-Quran. Ketika banyak ayat di Al-Quran yang menegaskan kepada umat Islam untuk berpikir, justru banyak dari kita yang tidak berpikir, bahkan berpikir untuk dirinya sendiri pun tidak. Di Indonesia sendiri, adanya prilaku yang korup dari pejabat, menandakan mereka tidak memikiran nasib di kehidupan akhirat, rakyat yang berpangku tangan menjalani ketertindasan, menunjukkan mereka tidak memikirkan hak dan kewajiban sebagai warga Negara, terlebih lagi sebagai seorang muslim yang mengaku tidak ada Tuhan selain Allah, yang pada ayat di atas telah ditunjuk oleh Allah sebagai umat terbaik.
Patut dipertanyakan kembali ke-Islaman-an kita, sudah sesuaikah dengan karakteristik umat Islam yang dideskripsikan dalam Al-Quran. Berangkat dari keresahan-keresahan yang tersebut di atas, menjadi harapan bagi “KAJIAN MUNISA” untuk mengkaji Al-Quran dengan sebuah metode MUdah, NIkmat, dan SAyang, seperti yang telah difirmankan oleh Allah dalam Al-Quran
